25.1.12

Mengolah Kenyataan Urban Kiwari

"Kipas Penglaris" -- Ingat bagaimana para pedagang mengibas-ngibaskan uang hasil penjualan pertamanya di satu hari ke barang-barang dagangannya?


Aneka pil obat untuk masing-masing sindrom yang dirasakan oleh penduduk kota

Dalam arti sempit, desain terkait erat dengan (benda-benda) konsumsi, dan karenanya, dengan gaya hidup. Produksi barang-barang konsumsi modern memerlukan desain untuk memadukan dua hal yang bertentangan: keseragaman untuk produksi massal dengan identitas keunikan. Di kota, proses produksi dan konsumsi mengalami intensitas tinggi, jumlah barang yang tersedia selalu terjaga dengan tingkat keberagaman yang tinggi pula. Kota kemudian menjadi tempat persaingan yang ramai, hiruk-pikuk dalam hal jumlah maupun keragaman “kepribadian” benda-benda konsumsi—keramaian yang tidak hanya menjajah ruang publik, tapi juga mulai merambah ruang pribadi melalui media dan teknologi informasi.

Minyak Belut "Eel Oil" - menjawab kebutuhan penumpang kendaraan umum agar dengan badan yang licin dapat mudah menyelip masuk atau keluar di kendaraan umum yang padat

Kota itu sendiri juga adalah sebuah produk desain yang sangat besar dan menyeluruh. Bagaimana kota, sebagai suatu desain, berhubungan dengan benda-benda konsumsi lain, dalam berhubungan dengan orang-orang yang menempatinya? Bagaimana kota dan ruang-ruangnya dikonsumsi? Dalam keadaan seperti itu, masyarakat cenderung berada dalam dua kubu ekstrem: antara hanyut dan mengidentifikasikan diri dengan benda-benda, menilai dirinya dan membiarkan orang lain menilai dirinya atas dasar hubungannya dengan benda-beda itu; atau menjadi penonton, menghayati dan sepenuhnya menjaga jarak, melihat benda-benda datang dan pergi.










Seri "Urban Jungle Warfare2" dari Indie Guerillas -- refleksi kehidupan ekonomi-sosial kota saat ini

Bagaimana menjalankan kesenian dalam keadaan tersebut? Apakah laku berkesenian harus berpera n heroik menyelamatkan tiap orang? Ataukah berperan sebagai badut yang bijak, yang dengan usil mengganggu keadaan di dua titik ekstrem tersebut? Apakah laku berkesenian masih bisa berguna memberikan inspirasi?

Photos and caption by myself


5.1.12

Senja Utama

Ini bukan kunjungan pertama atau kedua saya ke Solo. Namun perjalanan pulang pergi dengan kereta Senja Utama sedikit banyaknya seperti pengalaman baru juga. Sebab ini adalah perjalanan jauh saya dengan kereta bisnis, setelah terakhir pada akhir tahun 2006 saya pulang pergi Jakarta Malang dengan kereta eksekutif Gajayana yang sangat nyaman. Dulu perjalanan dengan kereta bisnis paling sering adalah dengan kereta Parahyangan Jakarta-Bandung. Setelah jalan tol Cipularang selesai sekitar tahun 2004, praktis moda perjalanan ini sudah saya tinggalkan. Di Sumatra, saya juga memilih kereta Sri Bilah kelas bisnis jurusan Medan - Membang Muda untuk mengunjungi sanak saudara kampung halaman ibunda di tahun 2004.

Musim liburan di mana frekuensi perjalanan kereta bertambah untuk mengakomodasi pertambahan jumlah penumpang tidak membuat perjalanan terganggu. Gerbong kereta Senja Utama sendiri cukup bersih walaupun tanpa AC. Memang sedikit hawa kurang sedap karena posisi tempat duduk bersebelahan dengan toilet yang berkelibat tiap pintu toilet bergeser dibuka. Tapi absennya asap rokok, pengamen, dan peminta-minta sudah membuat saya cukup tenang selama perjalanan.

Perjalanan kereta malam tentunya tidak menyediakan banyak pemandangan persawahan di sepanjang jalur Jakarta - Cirebon - Purwokerto - Yogya - Solo. Berangkat pukul 20.20 tepat dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, kereta berjalan lancar sampai dengan Cirebon, ujung track ganda kereta api. Selanjutnya, kereta banyak berhenti di berbagai stasiun untuk berselisih jalan dengan kereta-kereta lain dari arah yang berlawanan. Tidak banyak yang bisa dilihat di jendela, kebanyakan penumpang memilih untuk menyenderkan kepala ke jendela - sebab kursi tidak bisa direbahkan seperti di kereta eksekutif - dan tidur sebisa-bisanya. Yang tidak bisa tidur, mungkin bisa memilih mengobrol atau membaca, atau mungkin menikmati makanan yang dijajakan oleh petugas restorka dan pedagang asongan yang hilir mudik kala kereta singgah di stasiun.

***

Fajar datang saat kereta menjelang stasiun Kutoarjo. Entah embun, entah gerimis yang membuat cuaca sedikit basah. Kereta sedikit terlambat rupanya. Jam 7 pagi, kereta baru sampai Stasiun Tugu, Yogya. Tapi tidak mengapa. Perjalanan antara Yogya dan Solo selama kurang lebih satu jam bisa dinikmati dengan melihat persawahan yang hijau sedikit menguning yang menghampar luas. Melewati Delanggu, di mana terhampar sawah-sawah padi Rojolele yang terkenal, saya sedikit berseloroh di twitter "Just passing the fields of the cat fish king rice: The Long Goo".

Kereta mengakhiri perjalanan di Stasiun Solo Balapan pukul 8. Seorang tukang ojek menawarkan jasanya untuk mengantarkan saya ke daerah Jebres. "Lima belas ribu," ia mengajukan tarifnya. I'm in holiday mood. Tanpa saya tawar lagi, saya naikkan barang ke motornya lalu saya pun turut di boncengannya.

Di jalan saya mengobrol ringan dengan tukang ojek. Soal cuaca saja, tidak perlu soal politik, apalagi curhat masalah pribadi. Namun kemudian di lampu merah ada insiden kecil yang mengejutkan. Ujung jari kaki kirinya terlindas oleh ban kanan depan mobil suzuki carry di sebelah. Tanpa berteriak, ia menegur supir mobil, "Mas, mundur sedikit kaki saya terlindas." Supir mobil, dengan gugup, sempat malah memajukan mobilnya yang berarti makin melindas ujung kaki tukang ojek. Untungnya dia cepat sadar, memundurkan mobilnya. Insiden tanpa teriakan marah-marah atau caci maki ini membuat saya tersadar: Oh iya, sekarang saya ada di Solo.




4.1.12

Twilight, by Dr. Seuss

Twilight, by Dr. Seuss
(by unicycle http://io9.com/people/unicycle.newpaltz/)
Jake likes a girl. Her name is Bella.
Bella likes a different fella.
See this vamp? This is Ed.
Ed is pale. Ed is dead.
Ed saved Bella from a van.
Ed must be a special man.
Ed won't kill boys. He won't kill girls.
Ed gets fed on deer and squirrels.
This is James. He's a tracker.
He's a sort of vamp attacker.
James hunts Bella for a thrill.
Will Ed kill him? Yes, he will.
But James gave her a little bite.
Will she be a vamp? She might!
Edward fixes Bella's cut.
She won't be a vampire.
But...
She becomes one. Read some more.
She's a vampire in book 4.

14.12.11

Langgam Tiga Hati

Langgam Tiga Hati
13 Desember 2011
Grand Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place Jakarta


Harper's Bazaar Indonesia kembali menggelar suguhan fashion dan musik yang kali ini mengangkat judul "Langgam Tiga Hati". Tema budaya Indonesia yang menitikberatkan pada upaya mendekatkan kembali tradisi musik keroncong kepada penikmat musik Indonesia sendiri dipadukan dengan ragam busana yang merupakan hasil olahan dari esensi tradisi batik dan kebaya.


Acara dibuka dengan gelaran persembahan gerak tari dan musik yang mengusung tema Nusa Tenggara Timur, sejalan dengan launching persembahan ke-26 dari Sariayu Martha Tilaar yakni Pesona Etnika Nusa Tenggara.


Terinspirasi dari danau tiga warna Kelimutu & serta corak warna tenun ikat dari desa Bena, kedua koleksi tatarias "Kelimutu" dan "Bena" ini menyajikan kontras yang bisa dipilih sesuai keinginan para konsumennya.

Runway berbentuk tanda + ditata secara minimalis. Sebagai centerpiece, kubah berdiameter sekitar 8 meter berjeruji metal dan berhias ribuan lampu-lampu kecil melingkupi posisi Erwin Gutawa Orchestra.

Setelah ucapan terimakasih kepada para sponsor dan pendukung acara yang dipandu oleh MC Becky Tumewu, nomor overture "Penari" yang diaransemen sangat apik oleh Gutawa membuka acara peragaan busana.

Selanjutnya anak-anak pemeran Musikal Laskar Pelangi: Christoffer Nelwan, Hilmi Fathurrahman, Ratnakanya Pinandita dan Sheila Aisha dengan lincah membawakan medley Kr. Pasar Gambir & Stambul Anak Jampang.

Setelah nomor instrumen "Semusim" dengan solo violin oleh Henry Lamiri, tampil segar dengan gaun merah muda Bunga Citra Lestari membawakan "Setia".

Selanjutnya "Zamrud Khatulistiwa" dibawakan orchestra dengan solo flute bercitarasa Tionghoa, memperkuat tema cheongsam dengan motif biru khas keramik porselen dinasti Ming. Masih melanjutkan tema Tionghoa namun dengan nuansa lebih kelam, "Kala Sang Surya Tenggelam" mengiringi ke rancangan yang selanjutnya.

Gubahan Gesang yang sudah terkenal ke mancanegara Kr. Bengawan Solo dibawakan oleh mantan vokalis Kerispatih Sammy Simorangkir. Kemudian kembali tampil ke panggung, Bunga Citra Lestari bersama penyanyi anak-anak mengalunkan nomor langgam "Di Bawah Sinar Bulan Purnama" yang mendayu-dayu.

Sundari Soekotjo, yang sudah identik dengan perkembangan musik kroncong di Indonesia, tampil dengan cengkok sempurna dalam menyanyikan "Kroncong Sriwana". Lagu ini mengantarkan rancangan Eddy Betty yang memasukkan ide Hollywood ke dalam bentuk kebaya.

Sammy Simorangkir kemudian hadir kembali untuk berduet dengan Sundari Soekotjo membawakan Kroncong Morisco. Kesan klasik semakin diperkuat oleh sebuah nomor dari Sarah Brightman Nella Fantasia dibawakan oleh Sundari Soekotjo dengan warnanya tersendiri.

Sejumlah nomor seperti medley Kroncong Pasar Gambir & Stambul Anak Jampang serta Langgam Di Bawah Sinar Bulan Purnama tampil dengan aransemen yang bentuknya bisa didengar di album Dekade Chrisye.

Tidak hanya memanjakan mata dan dan telinga, acara ini juga memberikan atmosfer yang utuh sesuai tema. Di area foyer, selain disuguhi hidangan khas Indonesia, para tamu juga bisa beramah tamah di sekitar tiga titik utama dari 3 sponsor utama acara ini.

Djarum Bakti Budaya mengangkat tema batik Kudus, BCA prioritas memilih tema betawi, sedangkan Sariayu Martha Tilaar menampilkan tema Nusa Tenggara, lengkap dengan para pengrajin tenun ikat Desa Bena.


Detail pendukung acara: http://harpersbazaar.co.id/bfc2011/