Foto Keluarga

Mumpung Ifa belum berangkat ke Jepang, Mama minta kita sekeluarga berpose untuk foto bersama. Berhubung foto di studio rada membosankan dengan latar yang begitu-gitu saja, akhirnya kita memutuskan memilih Taman Mini Indonesia Indah sebagai lokasi pemotretan. Supaya lebih mantap lagi, Asni sepupu kita yang bisa diandalkan dalam urusan fotografi kita undang.







Rencananya sih jam sembilan pagi sudah sampai di lokasi, untuk mendapatkan pencahayaan alami yang bagus. Secara mama tetap minta kita foto bareng dulu di rumah dengan memakai baju yang formal, acara di TMII mesti terlambat sedikit.

Lokasi pertama yang dipilih adalah Mesjid At-Tiin yang berada di sekitar kompleks TMII. Sebelumnya gw belum pernah ke sini tapi gambar-gambar mesjid ini yang pernah gw lihat menunjukkan bahwa tempat ini bakal menyediakan latar belakang yang bagus. Massa mesjid dengan kubah dan menaranya dengan ornamen geometrisnya, lorong beratap, serta halaman rumput dengan hiasan pohon-pohon jenis palem, pas sekali menjadi background.















Apalagi dengan ditambah sedikit kreativitas dalam menyusun pose dan sudut pengambilan gambar yang diatur oleh Asni, hasilnya adalah gambar-gambar yang menarik.













Berikutnya, setelah memasuki arena Taman Mini, dasar orang Minang, kita memilih untuk berfoto di anjungan Sumatra Barat.





Hari sabtu pagi itu, cukup banyak pengunjung lain di anjungan ini. Jadi cukup susah untuk mengambil sudut dari anjungan yang bebas dari orang yang berlalu lalang. Padahal rencananya, kita mau mengambil pose di jendela rumah gadang. Walhasil kita memilih sudut di depan musholla dan aula kesenian.





Dari situ, kita bergerak ke anjungan lain yaitu anjungan Kalimantan Timur. Bentuk rumah panggung dengan ukiran khas suku Dayak yang sangat menarik dan warna dominan hitam, putih, dan merah menjadi alasan utama kita berfoto di situ.







Di halaman belakang, ternyata lebih banyak lagi sudut yang cukup menarik untuk dijadikan latar belakang pemotretan. Panggung kesenian, rumah panggung kecil, dan jembatan yang semuanya adalah ciri khas dari provinsi Kalimantan Timur menjadi saksi pose-pose narsis dan gila kami.















Bahkan patung naga, dari festival khas Kerajaan Kutai, jadi objek kejahilan.





Mama dan ayah yang sedang duduk-duduk di bawah rumah panggung juga sempat berpose.



Setelah puas dengan kostum merah-merah, berikutnya giliran kostum putih-putih yang beraksi. Pada mulanya, Taman Burung sempat menjadi kandidat sebagai lokasi pemotretan berhubung suasananya bagus paduan antara taman, burung-burung dan konstruksi kubah besi. Secara kita malah teringat isu flu burung dan kenyataan bahwa kita mesti bayar tiket masuk, akhirnya kita memilih lokasi lain, tepatnya di monumen Gerakan Non Blok. Melihat ada bentuk bola dunia yang bisa dijadikan objek permainan perspektif, gw mengambil gambar Ifa yang berpose di depannya.







Setelah beberapa foto keluarga secara lengkap, Asni mengarahkan kita untuk mencoba variasi pose. Dengan aba-aba hitungan satu dua tiga, kami melompat. Susah juga ternyata mengambil pose ini. Tapi setidaknya ada satu hasil jepretan yang cukup bagus mengabadikan pose saat kita tepat di udara.



Hari makin siang. Untunglah, cuaca sedikit mendung membantu mengurangi teriknya matahari. Dari monumen Gerakan Non Blok, kita pindah lokasi ke anjungan Bali. Tempat yang menarik, mengingat suasananya mirip dengan suasana sesungguhnya di pulau dewata.







Bentuk candi bentar, aula kesenian, patung, juga set gamelan bali, dengan dominasi struktur bata merah, beton dan atap ijuk juga warna yang dominan yakni merah, hitam, dan emas kontras dengan baju putih-putih yang kami kenakan.







Untuk pose lucu-lucuan, Isma dan Ifa berpose menirukan gaya patung penari di depan aula kesenian.



Sebagai variasi, Asni mengambil gambar kami berpose di atas rumput yang menghasilkan kontras putih dan hijau yang menarik.



Comments

Popular Posts