Jalan-Jalan dan Nonton di Depok Town Square

Depok Sekarang dan Miss Depok Pageant

Depok sekarang sudah luar biasa ramainya. Seakan tidak mau ketinggalan dengan Jakarta, kotamadya ini sekarang sudah penuh dengan sejumlah pusat perbelanjaan baru yang siap bersaing. Baru saja ITC Depok dibuka, secara hampir bersamaan Depok Town Square dan Margo City Square membuka pintunya dan menarik sebanyak-banyaknya pengunjung.

Sekedar untuk memenuhi rasa ingin tahu saja, saya datang mengunjungi Depok Town Square (Detos). Walaupun sama-sama menyandang nama Town Square, suasana di situ sangat berbeda jika dibandingkan dengan Cilandak Town Square (Citos). Suasana avenue dalam koridor beratap dengan tempat-tempat makan yang trendi di kiri-kanannya seperti yang ditawarkan oleh Citos tidak ditemui di Detos. Atmosfer di situ malah lebih mirip ITC dengan ruang untuk kios jualan yang luas.

Rupanya di atrium Detos sedang berlangsung final pemilihan putri Depok. Akhirnya ada juga pemandangan yang bisa mengurangi rasa sakit bekas luka terpotong di telunjuk tangan kiri saya. Mungkin efeknya lebih ampuh dibandingkan aspirin.

Para finalis yakni 20 orang gadis muda yang cantik siap memperebutkan posisi sebagai yang terbaik. Saya kurang paham apakah pemenang akan dikirim ke tingkat Jawa Barat sebagai bagian dari pemilihan Putri Indonesia. Yang jelas penonton berdesakan melihat hiburan menyegarkan dari gadis-gadis bersanggul dan berkebaya yang menyebarkan senyum manis.

Menilik pertanyaan yang dilemparkan oleh juri kepada para finalis, saya cukup kaget. Mulanya saya pikir pertanyaan yang perlu mereka jawab hanya berputar di sekitar tempat nongkrong favorit, kriteria cowok ideal, atau gosip tentang artis. Ternyata berat juga soalan dari juri yang mesti mereka jawab, seperti bagaimana menyiasati dilema kenaikan BBM dan TDL.

Berbagi Suami

Berhubung ada judul film yang sudah lama ingin ditonton namun keburu turun dari bioskop-bioskop di Jakarta, Berbagi Suami, sedang tayang di Detos 21, saya tidak melepas kesempatan tersebut. Selain memang untuk menyaksikan film yang sudah banyak saya baca ulasannya ini, kesempatan itu juga saya pergunakan untuk mengulas kualitas teater di situ.

Tiga cerita berbeda menggambarkan sudut pandang dari tiga perempuan dari tiga kelas berbeda yang sama-sama menghadapi persoalan poligini dalam rumah tangganya. Perempuan pertama, Salma (Jajang C. Noer), mesti menghadapi kenyataan bahwa suaminya telah beristri muda. Saat acara launching produk real estate milik suaminya, dia bertemu dengan 'pendatang baru' itu, Indri (Nungki Kusumastuti). Kenyataan tersebut awalnya dirasa pahit olehnya, namun perjalanan waktu serta anak tunggalnya (Winky Wiryawan) mengobati sakit hatinya. Siti (Shanty) datang dari kampung ke Jakarta tanpa mengetahui bahwa ia akan diperistri oleh Pak Le (Lukman Sardi), yang sudah mempunyai dua orang istri (Ria Irawan dan Rieke Dyah Pitaloka). Sementara Ming (Dominique A. Diyose), datang dari Jambi untuk mengejar impian terpendamnya menjadi artis di ibukota. Bosnya, pengusaha bebek panggang, Koh Abun (Tio Pakusadewo) jatuh cinta kepadanya. Demi mengejar kehiduan yang lebih baik, Ming bersedia menjadi madunya, meskipun dipenuhi rasa was-was takut hubungannya itu diketahui oleh istri Koh Abun, Cik Linda (Ira Mayasopha).

Dari segi cerita, tidak ada yang mengecewakan dari Berbagi Suami. Skenario disuguhkan dalam bentuk tanpa pretensi untuk menghakimi poligini secara hitam-putih, malah lebih banyak bercerita suka-duka yang dialami mereka yang menjalaninya. Situasi-situasi yang memancing tawa juga menjadi nilai lebih dar film ini. Bagaimana para istri berebut membawa pulang Pak Haji yang baru terkena stroke, pesan terakhir Pak Haji kepada anak laki-lakinya agar beristri satu orang saja untuk menghindari kerepotan seperti yang dialaminya, istri-istri Pak Le yang sama-sama mengidam, malam pertama Siti yang malah diwarnai dengan proses persalinan dari istri tua Pak Le, juga dialog-dialog khas Glodok dari Koh Abun dan teman-temannya, semuanya menampilkan unsur komedi dari film ini tanpa harus disertai adegan slapstick. Perlu diingat, bahwa komedi yang lucu adalah komedia yang berangkat dari kenyataan. Bahwa penonton memandang situasi-situasi begitu menggelikan saat menyadari begitulah refleksi dari kenyataan yang sejati dari kehidupan rumah tangga poligini.

Memang jika mencari kekurangan, ada saja yang bisa ditemui. Namun bagi saya, kekurangan yang amat mengganggu adalah kualitas suara yang kurang bagus. Padahal saat tahu bahwa teknologi audio film ini dibantu oleh perusahaan Prancis, saya sempat berpikir kualitas suara film ini bakal jauh lebih baik dari film-film Indonesia lain. Namun ternyata yang dialami telinga saya adalah pengalaman buruk, terutama pada bagian paruh kedua dari cerita Siti. Mungkin juga penyebabnya adalah kualitas rol film atau teater yang kurang bagus, mempengaruhi proses reproduksi suara yang didengar oleh penonton.

Comments

Popular Posts