Felix domestica horribilis

Part 2: Darah muda


Begadang jangan begadang jika tiada artinya
Begadang boleh saja jika ada perlunya
- Rhoma Irama "Begadang"



Last posting: Si induk yang sudah merasakan akhir hidupnya sudah mendekat datang ke rumah hendak menitipkan anak bontotnya ke rumah. Si abang yang udah jadi preman lontong tak berkuah merasa kalau adik barunya itu hanya akan menjadi saingan baginya dalam hal nafkah lahir dan batin dari orang rumah.


Si Ucel pada hari-hari pertama kedatangan adiknya di rumah selalu menunjukkan sikap yang sama sekali tidak berperikeabangbinatangan. Setiap kali Anyet mendekat mau minta nyusu, si Ucul selalu menggeram dan menyeringai tanda tidak mau menyusui. Ya iya lah emangnya kita kucing ganteng apaan. Masa minta susu ke gw, emangnya gw emak-emak? begitu kata-kata yang bisa gw baca dari mata si Ucel. Si Anyet yang baru belajar berjalan tertatih tatih gamang tanpa ada seorang pun yang mengajari hanya bisa bingung menatap pandangan galak kucing besar yang disangkanya induknya itu. Gw mau aja sih ngajarin dia jalan, tapi nanti kasian dia kalo udah gede kebiasaannya jalan pake dua kaki atau gw yang kesian mesti jalan pake empat kaki. Gw juga mo aja sih nyusuin dia tapi di mana mesti nyari hormon penumbuh kelenjar susu buat manusia yang pingin jadi induk kucing? Jadi manusia aja udah susah!

Berhubung naluri kebinatangannya sedang berkembang dan butuh penyaluran, si Anyet terpaksa mencari teman bermain yang lain. Karena manusia bukan lawan dia yang imbang, akhirnya dia mencari spesies lain yang setara dengan dia sebangsanya kardus, keset, karpet, atau gorden. Dengan teman khayalan yang dia ciptakan sendiri, dengan serunya dia bergulat habis-habisan kadang-kadang sampai 10 ronde malah sampai partai tambahan. Berhubung teman khayalannya itu tidak pernah melawan balik, dia selalu berhasil memangkan pertandingan tak berwasit itu. Kini dia menemukan dunia bermainnya sendiri yang indah, paling-paling terpotong oleh teriakan orang rumah yang nggak rela ngeliat gorden digigit-gigit atau keset cakar-cakar sama dia.

Pada awalnya Ucel hanya memandangi dengan wajah sinis bercampur senyum mengejek melihat kekurangwarasan adeknya makhluk baru itu. Namun segalak-galaknya abang kucing tetap lebih galak lagi ibukota. Si Ucel selalu teringat-ingat wajah induknya yang dulu dengan memelasnya memohon agar Ucel mau menjaga adiknya itu sepeninggal dia. Sikap dia yang selalu memusuhi adiknya itu juga selalu mendapat penilaian yang jelek dari orang rumah. Berhubung dia tidak mau angka kredit kenaikan pangkatnya sebagai preman diturunin, akhirnya pelan-pelan dia mau menyusui merawat adiknya itu. Masalah ngasih makan memang belum bias berhubung penghasilannya sebagai preman lontong akhir-akhir ini semakin berkurang mengingat jatah sisa makanan yang biasanya banyak di rumah semakin menipis semenjak kedatangan gw di rumah ... huhuhu. Tapi setidaknya Ucel sudah mau membuka tangannya lebar-lebar menerima kenyataan bahwa kini Anyet menjadi tanggung jawabnya.

Tiap kali Anyet mendekat dan mengajak main, si Ucel tidak menggeram-geram lagi. Dia kini dengan sabar meladeni permainan ganas WWF yang dilakoni Anyet dari sudut merah. Berhubung dia masih sadar diri, Ucel biasanya hanya sabar saja menahan terkaman, gigtan, dan tamparan dari si Anyet. "Susah maen sama anak kecil. Kalo gw lawan trus menang, pasti dimarahin sama orang rumah. Kalo kalah, mo ditaro di mana nih kumis gw!" Posisinya hanya bertahan meredam serangan-serangan tidak berperikesusilaan dari Anyet. Tapi begitu sakitnya tidak tertahankan lagi, spontan darah muda Ucel melonjak dan membalas. Biasanya sekedar menggeram dan mundur. Namun kalau Anyet tetap menyerang meradang-radang, keluar juga jurus preman lontong mencari kuah dan krupuk dari dia.

Ngomong-ngomong lontong kuah dan krupuk, pola makan Ucel juga berubah semenjak dia menerima tanggung jawab untuk merawat Anyet. Jatah makanan yang biasanya dengan tenang dia habiskan sendirian, kini harus dia berikan dahulu kepada adiknya. Tiap kali datang sepiring kecil tulang ayam, dia harus rela mundur dahulu dua tiga langkah untuk memberi jalan kepada nafsu makan Anyet yang kiranya wajar mengingat dia masih dalam masa pertumbuhan dan rada kurang sopan-santun berhubung ditinggal induknya sejak kecil. Terpaksa orang rumah sengaja misahin jatah makan buat mereka berdua berhubung nggak tega ngeliat Ucel menjalani diet terpaksa kayak gitu.

Tanggung-jawab yang mesti ditanggung Ucel bertambah besar berhubung Anyet kini sudah tumbuh menjadi remaja kencur genit yang sudah mulai kenal menikur. Salon menikur favorit Anyet? Jok motor. Setiap keinginan itu timbul, Anyet habis-habisan mengasah cakarnya di situ. Jok motor itu sampai rusak, busanya menyembul di sana-sini di setiap lubang bekas cakaran dia. Terkadang-kadang acara asah-mengasah yang dia lakukan semakin menjadi-jadi kalau saat dia nangkring di atas jok, terlihat di balik pagar ada oom-oom kucing hidung belang sudah berbini tiga yang melemparkan rayuan-rayuan gombal tak bersajak kepada dia. Anyet, dengan darah kucing perawan muda dan otak sok polos, seringkali terhirup angin surga itu. Tak jarang dia membalas rayuan itu dengan memasang senyum simpul penuh arti dan penuh harapan. Di saat-saat genting seperti itulah Ucel datang dengan kapasitasnya sebagai preman setempat mengusir si oom-oom dari teritorinya. Yang diusir hanya melangkah santai, berpikir bahwa masih ada hari esok. Ucel, melihat kepergian kucing gendut jelek bau hidung belang itu, akhirnya bisa bernafas lega karena telah ebrhasil menjaga keperawanan adiknya itu. Namun dasar binal, Anyet tetap dengan sembunyi-sembunyi menear-nebar pesonanya dari atas jok motor, berharap-harap kalau masih ada kucing lain yang mau ngegombalin dia. "Godain kita doong!" pasti tulisan ini yang muncul kalo penerjemah meongan kucing buatan Jepang itu dipasangin ke jidat dia.

Itulah yang rada mengkhawatirkan. Selera Anyet terhadap cowo rupanya kurang mendapat restu dari Ucel, juga orang serumah. Anyet punya bulu yang warnanya banyak tapi campur-aduk motif chaos, berbeda dengan saudara beda bapaknya, Ucel, yang punya bulu tebal berwarna abu-abu kehitaman dan putih. Berhubung ada keinginan orang rumah supaya Anyet bisa mencari suami yang bisa memperbaiki keturunannya, selalu ada seleksi ketat terhadap pelamar yang datang mengajukan diri di balik pagar. Syarat lainnya, selain fisik yang ngganteng, harus setia dan bertanggung jawab. Kriteria ini yang membikin kandidat yang datang berguguran berhubung semuanya berhidung belang (baik secara harfiah maupun istilah).


Cats: Angels or Devils?


Comments

Popular Posts