30.1.04

Selamat!

... Anda tergolong dalam kategori berkulit mulus, cukup umur, dan bergigi sehat.
Segera daftarkan diri anda kepada kami.

ttd
Panitia Kurban

Selamat Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1424 Hijriyah, everyone!


28.1.04

Great Business Opportunity!

(Judulnya kayak spam, yah?)

Udah banyak cara licin yang ditempuh para pengemudi kendaraan pribadi supaya aman melenggang lewat kawasan 3 in 1 tanpa kena peluit dari polisi. Bawa pembantu, pasang kaca film 100%, atau gantung pakaian di jendela. Namun ide cemerlang yang belum bisa dipakai adalah membawa manekin berwajah Indonesia di mobil untuk mengelabui polisi.

Bisa jadi bisnis nih!

Mungkin tinggal pilih wajah manekin sesuai dengan idola anda. Dian Sastro, Sigi Wimala, Sophia Latjuba, atau Desy Ratnasari? Tinggal pilih. But you'd better be careful with those beautiful toys. Even if you bring two of them along to your office in Sudirman, you'd still get the chance of being busted, say, for performing intense affection in public. So be cool and calm, let those two 'ladies' sit down comfortably and keep your hands busy on the steering wheel.

Kalau sampai ide ini terealisasi, indahnya hidup di Jakarta! Paling pak polisi heran kenapa sepagian dia udah ngeliat Desy Ratnasari sampe 7 kali.



'Dian Sastro' lewat
Wah lumayan pagi-pagi udah dapet pemandangan bagus nih ... Seger!

'Desy Ratnasari' lewat ...
Fiuuuh ... sering-sering aja lewat, neng.

'Sophia Latjuba' lewat ...
Mimpi apa gw semalem yah, baru jam segini udah banyak yang bening-bening lewat.

'Sigi Wimala' dan 'Dian Sastro' lewat ...
Some lucky bastard! Gile banget dapet sekali dua.

'Desy Ratnasari' kesekian lewat ...
Nah dia lewat lagi. Kayaknya tadi sama oom-oom deh. Dasar selebritis jaman sekarang, gonta-ganti terus!

Selain itu, jangan sampe polisi jadi punya alasan buat ngeberhentiin mobil sekedar buat minta tanda tangan dari 'artis' di mobil elu.

25.1.04

Read but Don't Buy

"Iya pokoknya elu jangan pulang malam-malam. Serem nih di rumah."
"Emangnya kenapa gitu?"
"Si mbak bilang Kolor Ijo udah sampe Poltangan1 nih"




Ini memang bukan berita baru. Gw sangkain cerita ini cuma isapan jempol yang nggak bakalan nyebar sampai ke Pasar Minggu. Ternyata adek gw sendiri sudah terkena gosip yang nyeleneh ini.

Kolor hijau? Kenapa mesti kolor dan kenapa mesti hijau?

Kolor jelas asosiasinya dekat ke selangkangan walaupun ada juga sejumlah eksentrik yang memakainya di kepala. Berhubung kejahatan yang dihubungkan dengan gosip ini adalah perkosaan, pilihan itu cukup masuk akal. Meski demikian sesungguhnya ini bukan pilihan satu-satunya. Sarung, misalnya, di beberapa joke dewasa2 yang menyebar melalui sms dan milis sering dikait-kaitkan dengan aktivitas syahwati. Celana Dalam atau Celana Pendek juga bisa dikategorikan demikian. Namun pada akhirnya kolor juga yang dipakai mengingat kemudahan dan keringkasan dalam pengucapan.

Studi linguistik mengenai Jumlah Suku kata dan Kepopuleran Istilah

ka-pak me-rah = empat suku kata
pa-lu hi-tam = empat suku kata
ko-lor hi-jau = empat suku kata

See?


Hijau? Ada yang bilang ini masalah simbolisme dan ujung-ujungnya dihubungkan dengan segera datangnya musim Pemilu. Jadi untuk membuat counterissue, para politisi kini sedang menggodok kemungkinan dilancarkannya gosip "Topi Kuning", "Sarung Merah", dan "Bandana Biru." Padahal ini semakin mengerdilkan pandangan kita mengenai makna filosofis dan terapetis dari warna.

Kolor Repellant

Si mbak yang bekerja di rumah sempat bilang kalo penangkalnya adalah daun kelor dan bambu kuning. Daun kelor dan bambu kuning jelas-jelas susah dicari di daerah perkotaan. Carrefour, yang klaimnya adalah toko serba ada yang paling lengkap, belum menyediakan rak khusus bahan-bahan penangkal Kolor Hijau. Padahal dari segi bisnis, nyari laba dari isu berpengaruh signifikan terhadap penjualan. Sedangkan konsumen jelas-jelas akan membayar berapapun demi mendapatkan objek-objek yang bisa menjaga keselamatan dan kehormatan diri.

"mBak, tolong satu butuh satu unit alat penangkal Kolor Hijau."
"Baik, dek. Nama dan alamatnya bisa saya catat? Kami menerima pembayaran dengan kartu kredit lho."

"Halo 911. Kolor hijau menyerbu lingkungan kami."
"Satu unit Tangkal Kolor segera kami kirimkan, pak"

"Hanya di DRTV. Rp 99,900 untuk hidup lebih nyaman tanpa Kolor Hijau."

World would be a much better place

Okelah, kenapa nggak nyoba yang pilihan yang lebih logis misalnya beha hitam. Jelas-jelas beha hitam nggak matching sama sekali dengan kolor hijau jadi kemungkinan besar itu kolor nggak bakalan mampir. Atau mungkin penangkalnya adalah kolor warna hijau juga. Siapa tahu ada peraturan 'sesama kolor hijau dilarang ganggu'. Masalahnya warna kolor seperti itu nggak ada sama sekali gw simpan di lemari. Mo beli? Gw khawatir badan gw abis-abisan dihajar massa kalo gw berani nyari barang itu di pasar. Sebagai alternatif yang lebih aman dan multiguna mungkin bisa dicoba kolor yang udah nggak dicuci selama tiga tahun, terus direndam tiga minggu di dalam air deterjen. Bukan warnanya aja yang bisa ngusir makhluk antah berantah, baunya juga pasti ampuh buat ngusir nyamuk.

Nickname to be Notorious with

Jadi setelah kawanan "Kapak Merah" dan "Palu Hitam", kini muncul kawanan yang dengan bangga menyebut diri "Kolor Hijau". Atau setidaknya begitulah istilah yang dipopulerkan media. Julukan yang menyeramkan sepertinya syarat utama sebelum menceburkan diri di dunia kriminal. Apalagi misalnya kalau nama yang diberikan orang tua memang tidak terdengar mengerikan, seperti Umar. Mungkin gw mesti nyari nickname yang serem juga. Jadi inget celaan dari temen gw "Si Otak Bocor". Tapi kedengarannya bukan serem malah menimbulkan iba dan memicu sumbangan perban dan obat merah.

Jadi, hati-hati memilih warna kolor kalau tidak mau jadi bulan-bulanan massa yang sudah termakan gosip.



[1] Sebuah daerah di bilangan Pasar Minggu
[2] Misalnya "Sarung untuk Diemut"

21.1.04

Oleh Pengamen Ttg Pengamen

Kalau nggak ada bacaan, di jalan gw paling suka merhatiin perkembangan dunia musik jalanan. Gw masih inget dulu ada aturan tak tertulis: Setiap pengamen harus bisa nyanyi. Sekarang ini di Jakarta sepertinya susah menemui musisi jalanan yang profesional, yang tahu betul bahwa mengamen bukan asal mengeluarkan bunyi tapi harus betul-betul menghibur sehingga pendengar pun dengan senang hati memberikan bayaran. Kini gw seringkali merogoh kocek benar-benar cuma karena iba (atau mungkin di bawah kata-kata ancaman atau sekedar mengurangi beratnya uang koin di dompet), bukan karena gw merasa hiburan yang disuguhkan si pengamen memang pantas untuk dihargai dalam bentuk uang.

Selain itu kelihatan jelas kalau di antara mereka tidak ada koordinasi yang bagus. Contohnya bisa sampai empat pengamen bergantian naik untuk bernyanyi di atas satu bus dalam suatu rit. Kadang-kadang penyanyi kedua dan seterusnya memang sadar diri, jika dilihat dari ruas jalan yang sudah ditempuh dari terminal, mereka pasti bukan orang pertama yang menjajakan suara di bus itu. Tapi bagaimana dengan penumpang a.k.a pendengar? Seringkali penumpang bus sudah menghabiskan 'anggaran untuk musisi jalanan' (baca: uang receh yang berlebih yang terlalu berat untuk disimpan) bagi pengamen pertama, meskipun ia bernyanyi seadanya. Ternyata pengamen kedua yang naik jauh lebih niat, dengan gitar dan suaranya yang sebenarnya jauh lebih layak dihargai. Apa daya receh di kantong sudah tidak ada lagi. Akhirnya penampilannya yang bagus lewat begitu saja tanpa dibayar. Pada akhirnya mereka terpaksa menerapkan prinsip posisi menentukan rezeki, berebutan naik dari terminal.

Sampai dengan tulisan ini naik cetak, dalam pandangan gw pengamen di Bandung lebih niat. Jelas soalnya di sana memang gudangnya musisi. Walaupun motifnya sama-sama motif ekonomis, di sana jadi pengamen memang mesti bisa nyanyi dan main gitar sedangkan di Jakarta kualifikasi itu nggak ada. Mungkin musisi jalanan di sana kalo diekspor ke Jakarta bisa langsung masuk café atau bar.

Musisi Jalanan: Jakarta vs Bandung
Penampilan
Jakarta: sederhana, memang nggak punya dana untuk penampilan.
Bandung: jauh lebih gaya. Minimal jaket, bling-bling serta sepatu boot. rambut warna-warni, body piercing minimal satu.
Alat Musik
Jakarta: nggak penting. kalo ada gitar, syukur. kalo gak ada, tepok tangan juga jadi.
Bandung: gitar kudu wajib harus. kalo ngamen lebih dari seorang, masing-masing megang gitar rhythm sama melodi. kalo ada personel tambahan buat tepok tangan bolehlah.
Repertoire
Jakarta: terbatas. paling sering cuma dangdut, paling banter lagu nostalgia. Jarang yang top 40.
Bandung: up-to-date sesuai dengan chart Ardan FM 105,8 .


Ngamen sebagai hiburan

Di Dago, setiap malam akhir pekan, biasanya banyak anak-anak SMU atau kuliahan yang ngamen keroyokan di depan antrian mobil yang kena macet mulai dari perempatan Cikapayang sampe jalan Merdeka. Rame-rame gitu emang bikin lebih pede kali ya walaupun konsekuensinya mesti menuh-menuhin pembatas jalan. Berhubung rasa pede bisa sangat berlebihan, nggak cuma nyanyi yang mereka lakukan. Mereka juga melayani rikues untuk akrobat, break-dance, pantomim, dan happening art.

Gw masih penasaran untuk apa duit yang mereka dapetin. Kalo karena laper buat makan, mereka gak punya tampang anak kuliahan yang nggak mampu bayar uang kuliah. Yang paling mungkin adalah ngamen yang dikaitkan dengan kegiatan kampus. Biasanya dalam rangka pembinaan, para senior suka nyuruh junior-juniornya buat bikin usaha yang bisa mengumpulkan dana. Dana yang terkumpul mungkin buat jadi uang kas atau buat jadi modal untuk ngadain program lain. Caranya nggak nyusahin adalah dengan ngamen.

Atau dari sudut pandang lain, ngamen, baik untuk nyari duit ataupun tidak, bisa jadi hiburan sendiri bagi pelakunya. Tiga-empat anak kos jomblo yang nggak bingung mo malam mingguan ke mana, bosen cuman jalan-jalan BIP, ngebacain judul-judul buku di Gramedia Merdeka yang nggak bisa dinikmati dengan santai berhubungan ada larangan "dilarang baca sambil duduk", bosen trus-trusan nge-game, dan suntuk duduk berjam-jam di warnet terus, bisa seneng-seneng ngamen buat membunuh kebosanan dan melarikan diri sejenak dari tugas-tugas yang menumpuk. Uang cuma efek sampingan yang menyenangkan dari acara hanging out ini.

Rasa Senasib

Masih untung saya ini. Bukan cuma rate yang lumayan, gw juga bisa 'ngamen' di tempat yang adem, ditambah fasilitas antar jemput, plus all-you-can-eat lunch. Jadi jiwa kepengamenan ini masih sering tersentuh melihat ketidak beruntungan mereka yang bekerja di perempatan-perempatan di bawah terik matahari hanya untuk mendapat sedikit gemerincing uang receh di kantong bekas permen Kopiko. Jadi pernah sehabis memasukkan selembar uang seribuan ke dalam kantong yang disodorkan seorang pengamen di perempatan jalan Asia Afrika dekat hotel Preanger, seorang teman komentar, "Ke sesama pengamen sih mesti ngasih, ya Mar?" Gw cuma nyegir dan membatin. Betul juga. Mungkin perasaan senasib.

19.1.04

en route kota - blok m

Jadi jawabannya: akhirnya gw udah nyobain busway. Tidak usah nunggu sampe liburan tahun baru Imlek 2555, kemaren gw berhasil berkenalan dengan sistem yang satu ini.

Dari Ancol bersama adek gw, gw udah rencana pulang naik kereta aja. Minimal bisa cepat sampai. Rupanya tepat di depan stasiun kota ada halte busway. It's really like a dream come true. Bayangkan, baru beberapa hari sebelumnya kejadian di beberapa halte orang berdesak-desakan dalam antrian yang mengular, bahkan ada yang sampai terinjak-injak. Bukti bahwa layanan gratis seringkali membawa efek yang fatal. Kasus ini persis seperti pembagian sembako gratis atau konser gratis. Jadi inget sebuah anekdot di Mati Ketawa Cara Rusia.

Seorang kakek suatu hari menerima surat bahwa ia berhak atas warisan dari kerabatnya yang tinggal di Amerika. Segera setelah ia mendapat kabar itu, beberapa petugas inteligen Rusia mendatanginya dan mengklaim hak negara atas warisan itu. Si kakek, biasa mendapat tekanan seperti itu, menyetujuinya dengan satu syarat: untuk satu hari semua toko di Moskow menyediakan bawang-barang gratis. Berhubung jumlah warisan tersebut cukup besar, pihak inteligen menyetujuinya.
Kesokan harinya semua toko menyediakan barang gratis. Terjadi antrian panjang di mana-mana yang akhirnya menyebabkan kegaduhan besar dan huru-hara. Banyak yang menjadi korban akibat terinjak-injak dan terhimpit.
Dengan gusar, petugas inteligen mendatangi kakek itu. "Lihat apa yang terjadi akibat permintaanmu yang nyeleneh itu!" bentak mereka. Dengan kalem si kakek menjawab, "Saya ini 'kan sudah tua. Jadi sebelum saya mati saya cuma mau tahu bagaimana sih komunisme itu."


Gw melihat ada kemiripan dari anekdot itu dengan sejumlah kejadian yang menyangkut masalah barang atau layanan gratis. Niatnya memang pemda ingin memberikan keringanan bagi masyarakat yang ingin mencoba busway, jadi selama beberapa hari ujicoba tiket masih "in the house". Akhirnya ya terjadilah yang tidak diperkirakan sebelumnya.

Siapa yang menyangka kalau ujicoba gratis ini cukup santer terdengar sampai ke luar Jakarta sehingga mengundang sejumlah orang membawa sanak keluarganya atau murid-muridnya untuk bertamasya di atas bus merah dengan logo yang menurut banyak pendapat sebelas dua belas dengan logo Kacang Garuda. Padahal berapa ongkos yang mereka keluarkan untuk jauh-jauh datang ke ibukota untuk, pada akhirnya, merasakan naik bus. Sebab naik busway, bagaimanapun, gak jauh dengan naik bus.

Quote this: "It's like riding a bus, in a much more civilised way." Mungkin cara beradab ini yang sudah lama dirindu-rindukan oleh kita. Kita dari dulu cuma mendengar bahwa di luar negeri bus itu cuma berhenti di halte, di luar negeri busnya bersih-bersih, di luar negeri di dalam bus nggak ada pengamen atau pemaen akrobatik atau pelaku debus, di luar negeri sopirnya rapi dan nggak ugal-ugalan. Rindu itu pun akhirnya sedikit terobati dengan program ini. Walaupun obat yang satu ini obat bermerk "bus way" yang berharga Rp 118 miliar.

Balik ke soal pengalaman pribadi dengan busway. Dengan kursi nyaman yang masih berbalut plastik serta dinginnya AC, gw lumayan menikmati pemandangan di sepanjang rute yang notabene adalah daerah prima Jakarta. Cahaya dari lampion-lampion berwarna merah emas yang menghiasi kebanyakan gedung di daerah Gajah Mada - Hayam Wuruk terpantul di permukaan kali yang memisahkan kedua jalan itu. Kalau tidak terpaksa, tidak disarankan melewati jalan ini di siang hari, berhubung terangnya matahari akan memaksa kita mengakui bahwa kali dengan air berwarna kehitaman itu sama sekali bukan pemandangan yang spektakuler.

Selepas daerah kota, bus melaju melewati daerah silang monas dan jalan MH Thamrin.

Night City Tour gratis. Itulah bagusnya naik busway malam-malam. Jadi wisatawan domestik dan mancanegara kini bisa menikmati pemandangan Jakarta dengan ongkos pp Kota - Blok M yang jelas jauh lebih murah dibandingkan naik SilverBird. Bagus juga kalo ada bus khusus turis. Ladies and Gentlemen, welcome aboard to the City's ultimate ride TransJakarta. For the next forty minutes, I hope you'll enjoy the night view of Jakarta. ... Paling bagus kalo tiketnya bisa gratis. Menilik dari kejadian sebelumnya, sepertinya bakalan ada juga turis-turis yang rela bersusah payah datang ke Jakarta untuk menikmati layanan gratis ini.

Malam itu, kru TransJakarta nampak masih dalam tahapan sosialisasi juga dengan kecanggihan bus seharga 800 juta ini. Tape player yang tersedia di bawah kontroler pintu hidrolik masih belum difungsikan. Penumpang terpaksa menikmati hiburan seadanya berupa percakapan radio:

"Kepada semua unit, berhubung sudah hampir jam sembilan malam, harap jangan menerima penumpang lagi sesampainya di Blok M"1
"Dalam perjalanan ke pool Pinang Ranti, harap hati-hati dengan segala halangan yang bisa merusak bus"2
"Urusan lampu depan yang rusak untuk sementara tidak usah dipermasalahkan. Di sepanjang rute, penerangan jalan masih cukup terang."3

Kuping gw yang desperate untuk mendapatkan hiburan, dengan sabar hati mengikuti kata demi kata dalam percakapan itu.

Untungnya di masa mendatang, para penumpang mungkin bisa menikmati alunan suara Sutiyoso dalam album debutnya "TransJakarta" dengan lagu andalan "Busway"4.

Jangan heran kalau suatu malam elu nunggu busway di haltenya dan ternyata busnya dengan kecepatan penuh melaju melewati halte begitu saja tanpa ada tanda-tanda berhenti. Dari pengalaman gw, hal itu boleh jadi disebabkan si supir tidak melihat ada tanda dari penumpang di dalam bus yang ingin turun sementara di halte dilihatnya tidak ada calon penumpang yang melambaikan tangan meminta bus untuk berhenti. Semacam miscommunication. Calon penumpang merasa tidak perlu melambaikan tangan lagi, berhubung rasa-rasanya bus mestinya berhenti di setiap halte, no matter what. Untuk melambaikan tangan pun bakalan sulit terlihat, berhubung bentuk halte yang tertutup dan pintu yang hanya membuka jika ada bus berhenti saja. Sementara pak sopir juga sedang asyik-asyiknya mencoba kecepatan penuh bus baru itu di jalur yang bebas macet. Tidak usah ada khawatir atau minder kalau ada kejadian seperti itu.



[1] Jadi ingat nggak usah nyoba nyari busway di atas jam sembilan malam
[2] Berhubung dalam ujicoba hari pertama, ada sejumlah bus yang rusak akibat menabrak rambu-rambu jalan dan terowongan Manggarai. Maklum kebawa terus gaya nyupir di jalur bebas hambatan.
[3] Akibat nubruk objek-objek yang ada di sepanjang jalan.
[4] Isman, itu lagumu sayangnya nggak didaftarin ke Depkeh. Bayangin berapa itu royalti yang bisa diterima ....

15.1.04

Fakultatif

Sejauh ini yang menarik dari kalendar kerja tahun 2004 adalah tanggal merahnya.

Dekat-dekat ini ada libur apaan ya?

Sepertinya tanggal 22 Januari nanti sudah resmi jadi hari libur nasional. Dulu sempet bingung ngeliat di kalender 2003 Tahun Baru Imlek dinyatakan sebagai libur fakultatif? Maksudnya fakultatif itu apa? Kalo "silahkan memilih sendiri antara libur atau tidak", tentunya mendingan libur. Sama halnya mungkin dengan hari kerja fakultatif, "silahkan memilih sendiri antara ngantor atau tidak", ya jelas mendingan libur juga.

Pas lagi kuliah atau sekolah, ada juga yang namanya "tugas fakultatif". Kalo udah begini, semuanya berasa mind games.

Yang ngasih tugas, guru atau dosen, mungkin gak tega mewajibkan tugas itu berhubung rasanya tugas itu gak ada hubungannya sama kisi-kisi ujian akhir, cuma mau ngasih bahan pengayaan, cuma ngetes apa mahasiswanya sudah cukup dewasa untuk menentukan apa yang terbaik untuk mengejar ilmu yang akan jadi bekal masa depannya, atau kelepasan ngomong mau ngasih tugas berhubung udah terlanjur dan nggak mau terbebani dengan acara memeriksa berlembar-lembar tugas yang masing-masing kurang lebih isinya sama dikopi dari satu "master", akhirnya ngebikin itu jadi tugas fakultatif.

Murid atau mahasiswanya tentunya tidak mo kalah dalam urusan mind game ini. Yah tunggu mood gw aja deh. Kalo lagi 'bener' gw kerjain, kalo gak ya 'kan cuma tugas fakultatif. Atau mungkin, tugas yang beneran aja gak kumpulin. Lah apalagi kalo tugas becanda kayak begini. Atau mungkin, Yah cukuplah tanggung jawab komunal ini ditanggung oleh mereka. Kayaknya satu orang nggak ngerjain gak bakalan ketauan. Yang terakhir ini sebenarnya sangat beresiko tinggi di mana pada situasi ekstrim tak seorang pun mengumpulkan tugas itu dan oleh karenanya perlu dikomunikasikan secara terbuka kepada seluruh kelas agar jelas siapa yang siap-siap pasang badan ngerjain tugas ini.

Tentunya gak semua orang punya kebiasaan mendelegasikan tugas kepada orang lain kayak gitu. Orang-orang mulia yang sudah dari kecil dididik untuk mengerjakan tugas yang sebanyak-banyaknya tentunya akan bersenang hati mengerjakan tugas ini dengan sungguh-sungguh. Sayangnya harapan yang menggunung untuk meraih nilai lebih tinggi harus kandas di tengah jalan akibat adanya peraturan yang menetapkan nilai maksimal yang bisa diberikan kepada murid dan mahasiswa. Mereka mungkin nyesel kenapa dulu nggak masuk sekolah yang bisa ngasih nilai raport lebih dari 10 atau nilai huruf lebih dari A+.

Sedangkan kebanyakan dari kita biasanya mengambil sikap yang moderat: ngumpulin tugas itu atau lebih tepatnya "mereproduksi tulisan karya 'creme de la creme'-nya kelas dengan modifikasi di sana sini dalam kadar yang secukupnya dengan trade-off antara besarnya perubahan dan waktu yang dibutuhkan untuk memparafrase semua paragraf demi menjaga nilai-nilai orisinalitas demi menjaga hak martabat si penulis asli yang sudah berbaik hati dan integritas diri sendiri agar terjauh dari tuduhan plagiarisme". Tindakan seperti ini bisa diasosiasikan dengan mereka yang udah desperate berat dengan nilai ulangan atau midtest dan berkeyakinan besar kalo nilai C kurus bisa diraih dengan turut serta mengumpulkan tugas fakultatif ini.

Kembali ke soal liburan lagi, mungkin hari itu bisa saya pakai buat jalan-jalan nyobain BusWay1 yang di hari-hari kerja obligatif tidak bisa saya tumpangi mengingat rute Pasar Minggu - Cempaka Putih masih jauh dari bentuk realisasi bahkan imajinasi.

Pada hari Imlek 'ku turut ayah ke Kota
Naik Busway2 istimewa kududuk di muka
Ku duduk samping pak sopir yang gajinya dua juta
mengendali bis merah supaya cepat larinya




[1] Seharusnya gw bikin janji sama psikiater buat ngilangin obsesi aneh soal ini.

[2] Mungkin ada bagusnya juga kalo ada DelmanWay.

12.1.04

Another Thought about Busway

Kemaren, saat melewati sebuah ruas jalan Sudirman antara Semanggi dan Blok M, gw sempet terkagum-kagum sama pembangunan jalur Bus Way.

Bangunan haltenya kayaknya bagus juga: model loket di gerbang tol yang masif dan ber-AC bikin penumpang yang lagi nunggu Transjakarta berasa kayak di akuarium. Apalagi dilengkapi dengan jembatan penyebrangan yang dibangun dengan tangga yang super landai yang konsekuensinya bikin jarak berjalan bertambah tiga kali lipat. Baguusss! Sebagai kompensasi dari penghancuran terstruktur jalur hijau kota, komandan proyek ini ternyata melakukan pengindahan tanah-tanah yang tersisa di antara setiap halte dengan mengisi setiap sentinya dengan tanaman hias yang telah mengalami pembinaan khusus supaya bisa tahan menghisap timbal, NOx dan SOx.

Warna busnya lumayan eye-catching: merah metalik. Mungkin disesuaikan juga dengan warna yang mungkin masih dominan dalam curi start kampanye pemilu 2004. Tapi sepertinya sekarang udah nggak jamannya lagi mengasosiasikan sebuah warna dengan partai politik berhubung 24 partai politik yang ikut pemilu tahun ini harus mengakui bahwa satu warna harus dipakai oleh lebih dari satu partai.1

Para pengemudi kendaraan pribadi yang harus berbagi jalur dengan Busway harus menyiapkan cacian-cacian baru setiap hari (baca: Curse Words of the Day) berhubung bakalan makan hati berton-ton karena susahnya mencari U-Turn yang sekarang sudah ditutup oleh jalur beton bercat kuning.2

Bukan gw doang yang cemas-cemas harap menanti realisasi BusWay. Para supir yang sedang dididik dan dilatih di Diklat supir Busway juga tengah menanti-nanti kepastian gaji 2 juta rupiah yang katanya bakalan mereka terima (baca: koran Tempo Senin 12 Januari 2004). Mereka mengakui akan mundur teratur jika gaji dan iming-iming tersebut ternyata tidak bisa dipenuhi oleh Pemda.

Rupanya pemda DKI c.q. dinas Sosialisasi Program Muluk-Muluk untuk mewujudkan Less Barbaric Jakarta masih percaya dengan hebatnya iklan. Jadi sosialisasi busway akhirnya disertai dengan gempuran iklan yang lucu-lucu di TV. Kayaknya dia belum baca "Matinya periklanan dan Bangkitnya PR" karya Al Ries. Mungkin ide dari iklan komikal itu tidak jauh dari ide ngebikin Busway yang emang buat lucu-lucuan aja.

Dalam hati gua mikir lagi, kenapa rencana besar untuk mengobati penyakit macet Jakarta dimulai dengan langkah-langkah yang kadar kontroversinya jauh lebih rendah seperti ngebenahin sistem komuter KRL Jabotabek yang tiap hari makin susah diprediksikan waktu keberangkatan dan kedatangannya itu. Bukannya lebih baik ngedatengin gerbong-gerbong baru yang pintunya masih bisa dibuka tutup secara elektronis (dan bukannya diganjel pake sendal jepit) dan besi pegangannya masih lengkap (biar nggak ada alasan buat berpegangan ke badan orang lain yang dalam beberapa kesempatan rawan akan pelecehan seksual dan penyebaran virus)? Gw kemudian menjawab sendiri pertanyaan bodoh itu. Headline Sutiyoso bersikukuh membangun Busway jauh lebih menjual, menjanjikan popularitas, dan memancing talkshow daripada Gerbong-Gerbong KRL Baru dari Bang Yos. 3



[1] Dari sekian juta (kira-kira 232, setidaknya di monitor gw) kemungkinan warna bisa dipilih, warna-warna yang dipilih oleh partai politik rupanya masih lebih sedikit dari 16. Jadi belum ada partai yang milih warnanya mauve, maroon, turquoise, fuchsia, teal, khaki, atau lime. Jadi kalo elu desainer logo partai, buat mencari ide yang beda silahkan cari di sini.

[2] FAQ tentang Busway di Jakarta
Tanya: Kenapa jalur bus way perlu dipisahin dengan blok beton warna kuning begitu?
Jawab: Karena kalo warnanya pink terlalu ganjen.
Tanya: Bukan soal kuningnya, d'oh! Kenapa sampe dibeton? Kenapa nggak dicat aja?
Jawab: Kalo pemisahnya cuma dicat doang ... Pertama, terlalu murah. Biaya ngecat tentunya menyediakan dana kemplangan yang lebih sedikit daripada biaya ngebeton dan ngecat. Kedua, siapa tahu ada calon penumpang yang pingin nyetop Busway di luar halte. Itu jalur beton menyediakan tempat yang manusiawi buat mereka yang betisnya kurang kuat memanjat jembatan penyebrangan yang (kalo ada orang yang cukup iseng ngitungin) jarak tempuhnya bisa sampe beratus-ratus meter itu. Ketiga, ... elu pasti belum pernah ngeliat orang Jakarta nyetir. Ato setidaknya elu belom pernah ngeliat orang Jakarta nyetir pas nggak ada orang yang ngeliatin dia. Orang Jakarta tuh nyangkain garis-garis di jalanan yang kadang-kadang putus-putus yang kadang-kadang kontinyu itu cuma hiasan doang supaya sopir nggak bosen ngeliatin jalan yang polos.

Pencari kebenaran, pergilah ke mari. Sepagian gw coba masuk ke sini, tapi mungkin masih asyik di-bombardir sama cracker yang anti-Busway.

[3] Masih kesel gara-gara tadi pagi kereta rusak. Harusnya selain pengumuman "Para penumpang KRL jurusan Manggarai-Kota, kami mohon maaf sehubungan rangkaian kereta mengalami gangguan di stasiun Lenteng Agung", stasiun Pasar Minggu juga melengkapinya dengan, "Bagi penumpang yang membutuhkan surat keterangan izin terlambat masuk kantor karena gangguan kereta api sesuai klausul force majeure, kami sediakan di loket 3."

10.1.04

The media adores newsmakers and needs lots of them

Tadi pagi, sambil nungguin Crayon Shinchan, gw nyetel TV dan *sigh* terpaksa menonton gosip-gosip di Celebrity Update di TPI.

Trenyuh juga ngeliat si mantan bintang iklan "Xonce-nya mana?" Elma Theana yang ditodong buka-bukaan tentang masalah rumah tangganya. Well, what do you know about celebrities? Today they may throw a half-billion-rupiah wedding party with a lot of "I love you, sweetheart"s and the next day they throw chinawares and silverwares in a big fight with a lot of "I want a divorce"s in the air.

Of course, they are not so proud of what they're doing that they want to open up and say "Look at me. My marriage is in turmoil" or "Well, here I am. Single and pregnant" or "I'm cheating on my wife". Yet the whole world knows everything in the instance that they try to hide a skeleton in their closet.

That really got me into thinking "does the press have so much pressure?" Does it have the control over celebrities? Why does it seem to be the omnipotent hand that rocks the cradle in which celebrities live?

There's gotta be something wrong with this. In this fierce dog-eat-dog competition among thousands of gossip shows aired in on TV channels and uncounted celebrities columns printed in tabloids, national, regional, or local, the press, in my opinion, make use a very brilliant idea: create stories, lots of them. No news is bad news, bad news is good news, good news is great news.

When a media needs a coverage to meet a tight deadline and there's no news around, it could sow some seeds. So, in any infotainment program and article, you could easily find, "It's been widely rumored that you're seeing someone. Is that true? Whether the answer is yes or no, what the star say would be a news worth published. Even a single "no comment" line could be elaborated into four tabloid pages.

Desy Ratnasari Say "No Comment" about her relationship.
Senior Reporter admit: We got a huge archive of "no comments"
The chronology: Minute per minute coverage before the "no comment"
What our loyal readers say about Desy's "no comment"
We ask a sound-engineer and a psychologist: what's behind Desy's low-pitched "no comment"
The complete list: when and where Desy said "no comment"
Madam Psychic say: I see a lot of "no comment"s in the crystal ball.
Will "no comment" be a trend next year?

The media adores newsmakers and searches high and low to find them. And unlike diamonds, newsmakers can be made.

ps:
While those so-called celebrities try to escape from any media coverage, I find my own way to tell the world what's on my mind and feel a glimpse of fame: blogging.


Bonus: Learn to decode infotainment programs

Wei yang bener aja ... kita masing-masing udah punya pacar, lagi!
means
Yah liat aja nanti ... kalo dijodoh-jodohin kayak gini, nanti paling jadi beneran.

Kebetulan aja kita lagi deket gara-gara syuting sinetron. Nggak-nggak betul itu, siapa bilang kami sudah nikah.
means
Kalo aja elu petugas KUA di Kampung Bojongsoang ...

Iya nih lagi rada ndut aja ... Nggak kemaren ke klinik kandungan itu nganterin sepupu gue aja kok.
means
Yah paling tiga bulan lagi keluar.

Silahkan kalo pihak dia ngancem mo tes DNA. Saya sih siap-siap aja.
means
Kayaknya kemaren gue udah di tes DNA dan kuping gw sih kata dokternya gak masalah sama sekali.

Yah, pertengkaran-pertengkaran kecil kayak gitu 'kan biasa dalam rumah tangga ...
means
... di rumah tangga orang lain. Kalo di rumah kami sih yang biasa itu ngebanting-banting piring sama gelas lagi atau teriakan-teriakan "gue talak satu luh".

Oh nggak, kami sama sekali nggak pisah ranjang kok.
means
Nggak cuma pisah ranjang, wong udah pisah rumah sekalian.

Kata siapa kami sudah cerai? Kami baik-baik aja, kok.
means
Kalo saja elu tuh petugas pengadilan agama Kampung Pasar, Ciptagumati ...

Ya, saya sih berharap, setelah perceraian ini dia bisa menemukan pengganti saya
means
Apalagi saya sudah menemukan penggantinya jauh sebelum proses perceraian ini.

9.1.04

Oh yeah blame it on me!

I may be good at playing standard jazz, standard latin, standard ballroom, standard Indonesian pop songs, standard dangdut, and standard folksongs, including standard traditional Malay songs and standard kroncong. But all that suddenly become non-exixtent when I cannot play a single particular never-heard-before song requested by a guest, especially when it's the only song that he or she likes or, in most cases, knows. Because unlike other musical performers who play songs they love, I play songs that the audience love.

+ Could you perform "Jandaku"?

Say again? I could guess from the title, it's a dangdut song which, unfortunately, I've never heard before, let alone played. Diplomatically turning his request down, I offered another song, which I think a more popular dangdut song that he's got to know as well.

- I'm not very good at it. How if you sing "Pengalaman Pertama". It's very popular now.

Usually it's an offer no one would reject. But, apparently he was no ordinary person who would say yes to that win-win deal.

+ Oh come on. It's a popular song.

In which world? I couldn't not blame him for being a hardcore dangdut lover, but I just can understand why he was playing too stubborn.

- I know. It's just that I've never heard it.

He just kept going on and on.

+ It goes like this ... .

He tried to give a sample of the song. Yeah how could I get the notes if he's mumbling like that? Trying to put a fake friendly smile, I tried to follow his do re mi.

- Well, it's quite difficult because I don't know a single note of the song. Another tune perhaps?

Still, there's no sign of compromise. Instead, he launched a verbal abuse.

+ And you're saying that you're a professional keyboard player?

That was a cruel attack on me and my musical talent and, performed on a stage in front of 300 people, it was obviously a public humiliation. My heart beat faster, more blood rushed to my head, and my eyes reddened. I mentally pictured myself grow two devilish thorns on my head, grab this 61-keyed keyboard and bang it on his head until he screamed, "OKAY, OKAY. Anything you say."

I would've burst in rage and yelled loud and clear, "Damned you dangdut aficionado!" but being suave and compromising I practised Yoga step-by-step anger management. Calm down. Relax. Take a deep breath. Once, Twice. Say "God loves me, God loves, God loves me. Guest is always true". Think of the chocolate eclairs and roasted chicken on that table on the corner.

Thank God he was not the only one on the request list. Spotting an anxious, beautiful, and - hopefully - compromising young lady, I signalled her to move closer to me and tell me what was the song that she'd like to sing. She whispered and voilà a song that I could play well. As I began to run my fingers on the keys, the madness of arguing with a wacko slowly gave way to the fun of entertaining the audience. To me, she's truly a remedy, a drop a morning dew which relaxed my tense and healed my wounded heart.

7.1.04

Thank you for being our loyal client. Here's a token of our apreciation.

Kebayang kalo elo kerja di kantor biro iklan, trus tiba-tiba bosnya bilang "Kita mo bikin semacam suvenir buat klien. Kalo kata saya sih bagusnya bikin foto telanjang aja kali ya?"

Begitu tuh yang terjadi di Israel, seperti yang gw tonton di Nuansa Pagi-nya RCTI sebagai berita penutup - yang memang biasanya selalu aneh bin ajaib. Anchor-nya sih bilang di Timur Tengah, jadi begitu gw ngedengernya rada kaget juga. Wah gila juga masa sih Indonesia kalah dari Arab? Ternyata, dari karakter-karakter papan nama di pintu kantor yg gw liat di TV, itu kejadiannya di Israel. By the way, stop picturing any of your favorite star in a nude pose!

Yang lebih minta ampunnya lagi, ternyata yang jadi Miss (dan ternyata ada juga Mr.) Januari sampai Desembernya adalah staf biro iklan itu sendiri. Biar beda sama yang lain, katanya. Si bossnya mah okeh-okeh sajah ngedenger usul yang cukup bombastis dari stafnya itu. Bagus juga nih buat nyalurin bakat eksibisionis masing-masing kita yang masih terpendam. Let's reach down inside and take a porn star out of us!

Seblom difoto masing-masing staf yang sudah terpilih untuk terpampang di masing-masing bulan, minta restu sungkem ke masing-masing orang yang mereka anggap memang perlu dimintai izin persetujuannya. Si bossnya minta izin ke anak istrinya. Ada sejumlah karyawati yang masih lajang minta izin kepada orang tuanya. Kali ada juga yang minta izin ke rabinya. "Mak, bapak, minta izin nih, ane bakalan difoto telanjang." Minta izinnya kayak pamit mo berangkat sekolah ato minta izin mo malam mingguan kali yah.

Untuk "menghindari kesan pornografis" dan "menonjolkan citarasa seni yang tinggi", tentunya tidak ada full frontal pose atau up close and personal pose yang diambil. Minimal ada alat-alat kantor sebangsa mouse, keyboard, telpon, folder, tas kerja, serta tumpukan dokumen yang menutupi "bagian-bagian" terpribadi mereka. A bag covering your weenie? That sounds pop culture to me.

Warning: I'm not going to continue if you cannot cease your X-rated fantasies. Stop picturing Monica Bellucci posing with document folders covering her crotch and a telephone covering her breasts. This is a noble weblog!


Bodohnya, si anchor RCTI itu sama rekan wanitanya yang sama-sama jadi anchor tadi pagi, "Bagaimana tertarik bikin kalender pribadi?" Si rekan itu cuma senyum-senyum, nggak jelas karena "Mau juga sih, asal berdua sama kamu" atau "Udah punya kalender banyak di rumah, yang tahun kemaren aja blom abis-abis tuh" atau mungkin "Jangan cuma pribadi dong, mendingan dijual aja. Lumayan buat tabungan masa pensiun kalo udah nggak jadi penyiar lagi".

6.1.04

Kata orang sih begitu ... Kalo kata gw sih begini

Ternyata berdasarkan kajian empiris, orang-orang yang lahir di bulan September biasanya punya daftar sifat kayak gini. Masa sih?

SEPTEMBER:

#1 Suave and compromising.
True Iya lah, mendingan tarik ulur kepentingan sedikit daripada berantem. Yang penting semuanya senang. (walaupun semua lebih sering bermakna mayoritas hadirin. Susah banget bikin semua orang senang.)

#2 Careful, cautious and organized.
Kinda Gimana mo organized, padahal gw baru punya organizer sekarang. Yang lama udah diubah fungsinya jadi folder lirik dan tampangnya juga sudah jauh dari kategori organizer.

#3 Likes to point out people's mistakes. Likes to criticize.
Conditionally Ya kalo cuma nunjukin "Maaf om, resletingnya kebuka tuh" ato "Dek, ingusnya tolong itu dilap dikit" yah bisa lah. Tapi kalo nyuruh "Yah itu tolong menteri agama diturunin aja, malu-maluin sanak sodara" ato "aduh ibu presiden, mbok ya minum jamu singset ataw ikutan BL gitu dong biar lebih molegh kliatannya" ya maap-maap aja.

#4 Stubborn.
True Dasar Padang kali yah, Iyokan nan di urang, lalukan nan di awak Apa kata orang sih, diiyain aja toh akhirnya gue ngerjain apa yang gw pinginin. Misalnya gw udah dibilangin jangan kebanyakan jajan es alpukat "Sinar Garut" yang menurut semua orang selain gw bakalan bikin gw gendut, diabet, sakit jiwa, kecanduan, de-el-el. Tetep aja gw beli, dan sekali makan bisa dua bungkus. Pasti gara-gara ada ganjanya Sirop Mocca Sarangsari jadinya gw ketagihan banget. Kayaknya udah banyak banget yang kesel sama kelakuan gw seperti ini.

#5 Quiet but able to talk well.
True With a small note: bukannya pendiem, tapi males aja ngajak atau memulai pembicaraan (I'm trying to work out this!). Terutama di kereta, bus, pesawat, kapal, atao kendaraan lain yang pernah gw naikin.

Gimana sih cara ngemulai pembicaraan yang bagus. Cuacanya bagus, ya Basi. Standar. Terlalu nerjemahin dari buku pelajaran Bahasa Inggris untuk wisatawan. Eh, anak enhai ya. Kayaknya gw pernah ngeliat elo di Gerlong deh. Terlalu spekulatif. Bisa jadi ternyata dia bukan anak enhai, atau malah bukan mahasiswi sama sekali. Jangan-jangan dia dosen ato rektor gitu. Mo ditaruh dimana tuh muka? ATM-nya kira-kira nyala gak ya, mbak? Wah ini dulu paling cocok dipake di ATM BNI di Ganesha atau di Taman Sari yang 2 dari 10 kesempatan selalu rusak itu. Polanya: ATM pasti nyala pas tanggal muda, alias pas duit lagi banyak-banyaknya dan selera makan, nonton bioskop, dan belanja lagi gede-gedenya. Namun ATM pasti rusak, pas tanggal tua pas duit di tabungan tinggal goban-gobannya dan pas lagi butuh duit buat beli pulsa yang grace period-nya habis hari itu.

Ada yang lain sih yang pernah gw coba. mBak, jam berapa ya sekarang? Pernah gw coba dan berhasil membuka obrolan selama tiga jam di KA Parahyangan. Lumayan daripada mesti nyewa majalah seribuan itu atao ngitungin banyaknya kaca retak di jendela kereta lewat atao maksain tidur di bangku yang sangat tidak nyaman itu. Are you american? Gara-gara ini gw ngobrol banyak di Argo Gede sama seorang selandia baru yang baru aja nyampe di Jakarta. Lumayan meskipun banyak I beg your pardon-nya. Nggak jelas apa itu gara-gara gw kurang rajin ke dokter THT atau logat selandia yang jauh dari bahasa Inggris dan lebih dekat ke bahasa burung Kiwi. Memangnya tinggal di Jakarta atau di Bandung? Sering banget gw pake selama gw bolak-balik Jakarta Bandung dulu. Biasanya lanjutannya adalah Oh, sama dong. Jakartanya di mana? atau Oh saya sih kos di Dago. Cibarengkong tuh di mana ya, jarang maen ke daerah-daerah situ sih. Yang nggak usah dicontoh. I believe that seat 14D is the one by THE WINDOW not by THE AISLE Ini sih gara-gara ada cewe India keukeuh kalo bangku nomor C yang deket jendela dan D yang deket gang. Gw sih udah kompromi. Gw iyain aja apa kata dia. Daripada entar ribu-ribut sama turis ini mendingan gw aja yang pindah ke gang walaupun nomor gw D. Kayaknya dia akhirnya malu sendiri tuh, malah dia akhirnya pindah ke bangku bagian belakang yang ternyata kosong. Na chhot, na chooche, nakhre noor jahan ke!

#6 Calm and cool.
True Berbau iklan sekali, meskipun tidak disertai dengan kata-kata confident. Sifat begini sangat-sangat perlu ditonjolkan di saat-saat kesel nungguin KRL yang kelewat molor dari jadwalnya atau di atas bus P20 yang baru setengah perjalanan aja udah dinaiki sama lima orang pengamen dari berbagai macam genre.

#7 Kind and sympathetic.
True Need I say more? :)

#8 Concerned and detailed.
Not anymore Ternyata bersikap mendetil itu terlalu ngabisin waktu.

#9 Loyal but not always honest.
Hard to admit this but: True

#10 Does work well.
Only my employer could pass a judgement over this. Probably I'll put it this way: Does work -only that love best- well. Memang nggak bagus banget. Ada prinsip "Berusaha sebaik-baiknya mengerjakan sesuatu yang tidak anda suka, bahkan menjadi yang terbaik di bidang itu, akan terbukti bermanfaat bagi kehidupan anda kelak." Gw percaya hal ini, jadi kayaknya memang harus dicoba.

#11 Very confident.
Kinda See, I'm not that confident especially when describing a good trait of myself. I think the word very scares me a little bit.

#12 Sensitive.
True I'm sensitive to bright light, to noise caused by high pitched cats' midnight growling, to teribbly-tasted McDonald's meal. Kalo sensitive maksudnya mudah tersinggung, kayaknya gue udah belajar buat ninggalin sifat jelek begini. Jadi orang yang mudah tersinggung itu capek hati. Mendingan dibawa ketawa aja. Dan paling enak memang ngetawain diri sendiri.

#13 Thinking generous.
No Idea Ini maksudnya apaan ya? Gw pikir gw orangnya pemurah atau Orang pemurah yang suka mikir?

#14Good memory.
True Yah paling enggak short term memory capability gw seperti layaknya rata-rata orang lain, tujuh plus minus dua digit (hasil nyobain interactivities Memory di Microsoft Encarta 2002). Gw juga bisa inget adegan-adegan di serial Friends dan Sex and the City walaupun itu gara-gara gw klewat sering minjem VCD-nya dan most of all: sexual material. Kayaknya segala sesuatu lebih gampang diinget kalo diasosiasiin sama hal itu. Mungkin bisa jadi solusi belajar yang bagus :)

Tapi urusan nama, nggak janji. Tip-of-tongue phenomenon untuk urusan nama paling sering gw alamin. Biasanya gw mikir gimana caranya tahu nama ni anak tanpa harus ketahuan bahwa gw tuh lupa nama dia siapa.

+ He Mar, apa kabar lu?
- Eh iya baek (Ni anak inget nama gw, tapi nama dia siapa ya? Ria ... bukan. Yana ... kurang bule. Lia ... itu sih temen SMP. Indra ... kok nggak bejakun. Bu Ratna ... kok nggak ada logat bataknya. Siapa sih) Elo sendiri gimana?
+ Baek juga dong. Gimana sih elu jarang keliatan gituh?
- Biasalah kerjaan. (Sialan nggak buku ato apa kek yang ada tulisan namanya) Sendiri aja? (Masa sih nggak bareng temen, biar gw bisa tahu dari nama panggilannya?)
+ Iya nih. Elo juga ya?
- He-eh, sama. (Ni anak, kalo temen sebangkunya sih gw inget ... Duduknya kalo gak salah deket pintu gitu deh. Perasaan paling sering dipanggil ke depan disuruh ngapus papan tulis. )
+ Lagi nyari apaan?
- Nggak, cuma ngeliat-ngeliat doang. (Sambil ngebuka-buka buku "1001 nama bayi". Kali aja ada nama di situ yang bikin gw inget. Anastasia, Belinda, Catherine, Delilah, Emanuella ... yah jelas-jelas anak ini tidak memiliki tampang untuk dinamai seajaib itu!) Eh iya nih, gw mo cabut. Sori banget deh. Tapi bisa minta nomor hape sama alamat email loe 'kan? (Nyodorin hape, nyuruh dia ngetikin sendiri. Desperate move.)


Tiba-tiba sekarang di benak gw berlintasan wajah-wajah yang gw kenal banget tapi gw udah lupa namanya ...

#15 Clever and knowledgeable.
True Terbukti kalo lagi nonton kuis "Siapa Berani" ato "Who Wants To Be Millionaire" ato "Russian Roulet", gw sering banget teriak-teriak sok pinter "Payah, masak soal bahasa Yunani-nya bumi aja nggak ngerti sih", "Udah jelas xylophone itu dipukul, eh malah elu jawab alat musik tiup!" "Ni anak SMA masak kagak tau kalo planet yang kala revolusinya paling lama itu tuh Pluto". Atau paling nggak gw bisa ngisi 80% TTS hari minggunya Kompas. Tapi lagi-lagi di dunia ini, pertanyaan-pertanyaan kayak gitu sebenernya jarang kita temuin dalam kehidupan sehari-hari, kecuali ya itu tadi, di dalam kuis. Kayaknya gw nggak bakalan selamat dalam hidup cuma gara-gara gw tahu kalo ibukotanya Pantai Gading itu Abidjan atau Kucing sebenernya bisa berenang, dia cuma benci aja sama air. Dia lebih suka berenang tanpa air..

#16 Loves to look for information.
True Love to google anything.

Termasuk soal-soal yang nggak penting seperti:
"bakso malang cikini"
"Doa minta jodoh"
"lirik cucak rowo"
"Taksonomi Kucing".


#17 Must control oneself when criticizing.
True Yupe. Malahan sebenernya gw paling males mencela-cela orang. Ngapain ngejelek-jelekin orang yang udah jelek. Ngapain juga ngehina-hina orang yang mukanya kayak bemo.

#18 Able to motivate oneself.
False I definitely need others to do that for me. Walaupun gw udah bangun dan sadar, gw masih butuh seseorang buat neriakin gw untuk bangun. Kalo nggak gw pasti bakalan males-malesan trus di atas kasur.

#19 Understanding.
True Kayaknya gw dapet ini dari nyokap. Cuma beliau yang terus-terusan ngingetin gw suapaya bisa ngertiin orang dan jangan minta orang lain ngertiin kita. Emang susah sih tapi kayaknya bagus untuk dipertahankan.

#20 Fun to be around.
True Siapa yang nggak seneng kalo gw udah dateng dengen kibor dan siap untuk ngelayanin rikues yang seaneh-anehnya dari para hadirin. Apalagi gw orangnya penyabar, nggak gampak kesel kalo dicela-cela gara-gara ancur ngemainin lagu permintaan dia. Anak-anak seneng banget ngelilingin gw - sebenernya bukan gw, tapi kibor gw. Pasti abis dipencet-pencetin. Orang-orang tuh sampe bantai-membantai untuk berebut kesenangan yang terletak pada sepotong mikrofon karaoke. Sampe-sampe orang-orang suka ngenanyain tuh kalo gw ternyata gak bisa dateng ke acara dia. "Yaaahh ... coba elu bisa dateng. Pasti 'kan jadi rame." "Nanti nggak seru dong acaranya, gak ada acara nyanyi-nyanyi" "Dateng aja deh ... siapa lagi nih yang bisa ngisi acaranya" Seblom kepala gw nambah besar gara-gara sesi narsistis ini: minimal gw sadar kalo gw dibutuhin demi berlangsungnya acara. Lumayanlah, bisa nyenengin orang.

#21 Secretive.
True Btw, ini artinya apa ya? Bisa jaga rahasia orang? Kalo itu, kayaknya nggak salah lagi. Mulut gw jauh dari ember pecah. Jadi asal uang tutup mulutnya setara dengan besar-kecilnya rahasia yang perlu gw jaga, bisa dipastikan rahasia elo aman sama gw.

#22 Loves sports, leisure and traveling.
True Walaupun ternyata sekarang jadi susah gw jalanin. Seharusnya gw tuh jadi wartawan olahraga atau wisata atau kuliner aja biar bisa jalan-jalan terus dan makan enak terus.

#23 Hardly shows emotions.
True Kecuali positive emotions: happiness, amusement, laughter, excitement. Gw susah nunjukin kalo gw lagi sedih atau lagi marah. Pasti kebanyakan mikirnya, Marah nggak ya? Kalo gw marah dia bisa ngerti gak maksud gw apaan? Kalo gw nunjukin gw sedih entar semuanya ikut-ikutan sedih empathic. Kalo gw nujukkin gw lagi bete, entar ditanya-tanyain kenapa. Males banget. Berhubung gw nggak dikenal sebagai orang yang pemarah, gw pikir kalo gw nunjukin gw marah, pasti orang nyangka gw lagi meledak. Jadi akhirnya gak jadi marah. Dan memang dengan marah-marah, gw nggak bakalan bisa nunjukin apa yang bikin gw kesel dan gimana membenahi apa yang bikin gw kesel itu.

Ada dua jenis orang pemarah: eksplosif dan implosif. Orang yang eksplosif adalah orang yang dateng petantang-petenteng ke meja kasir terus gedor-gedor meja dan ngebentak-bentak si pelayan. Orang yang implosif adalah si pelayan yang kalem-kalem aja walaupun mejanya digedor-gedor, tapi diem-diem ngeluarin pistol trus nembakin semua orang di toko


#24 Tends to bottle up feelings.
True Nyambung sama yang di atas juga.

#25 Very choosy, especially in relationships.
True Walaupun tidak usah dilebih-lebihkan dengan kata-kata very. Semua orang toh pasti milih-milih. Gw nggak pernah dateng ke restoran trus langsung, tanpa ngeliat menu dulu, langsung pesen makanan. Gw nggak pernah nyalain TV tanpa didahului dengan ritual ngegonta-ganti saluran. Gw nggak pernah beli tiket bioskop trus langsung dengan percaya dirinya nunjuk nomor bangku "D6, seperti biasanya mBak". Gw nggak pernah beli tiket kereta tanpa mikir-mikir, "kalo deket jendela enak sih, pemandangannya lebih bebas, trus bisa tiduran nyandar ke dinding, tapi bahaya juga kalo-kalo anak-anak berandalan itu udah mulai nimpuk-nimpukin kereta api pake batu yang kalo kena kepala benjolnya lumayan itu. Kalo deket gangnya, pasti lebih aman tapi pasti gw kesenggol-senggol terus sama petugas restorka yang ngedorong-dorong kereta atau orang yang bolak-balik ke toilet ... "

Apalagi soal relationship. "Aduh ni anak udah bagus banget, coba aja kalo kebiasaan ngupilnya dikurangin sedikit" "Wah nggak tahan, manja banget ... " "Kayaknya nggak semeja banget sama gw, masa sih nggak tahan makan seafood ... Ada kumisnya lagi" "Yah ... anak Bandung. Entar susah ah mesti pake acara telpon-telponan jarak jauh, nggak pake maen fisik lagi ... " "Udah bagus banget sih ... tapi masa gak bisa diajak ngomong sih. Kalo kakaknya cocok tuh, tapi katanya kalo seumuran kurang bagus ..." Curhat nih ceritanya ... Intinya milih-milih tu perlu juga asal wajar aja. Koleksi. Seleksi. Resepsi.

#26 Systematic.
Kinda Liat aja postingan ini. Kurang sistematis gitu?

Get to know yourself

Pulang dari kantor kemarin

... gw mampir di Atrium Senen. Kayaknya bukan cuma mampir, tapi udah jadi ritual yang wajib gw kerjain sebelum pulang ke rumah.

Tujuan utama biasanya, Gunung Agung. Muter-muter nggak jelas di dalem, sampai akhirnya - dalam semangat untuk menyelamatkan muka di depan kasir - ngebeli 3 majalah musik dan satu organizer. Tiga majalah musik ini kayaknya gw butuhin soalnya untuk siap-saip acara sabtu-minggu nanti. Adek gw ngajak ke acara AFS di puncak. Another paid vacation? Lord is Great! Yang tentunya sudah pasti tidak bisa gw tolak. Syaratnya: gw mesti siap-siap sama lagu-lagu sekarang yang lagi ngetop. Seblom kerja biasanya gw masih rajin ngedengerin radio, terutama radio Ardan itu yang paling depan dalam urusan lagu-lagu top 40. Kalo sering ngedengerin kayak gitu, udah pasti gw apal banget lah lagu-lagu terkini. Nah sekarang gw cuma ngandelin mp3 gw yang lagunya terlalu beautiful golden memories itu. Kebayang kalo entar ada yang nanya:

+ lagunya Glenn yang Januari itu dong?
- Ehmm ... blom pernah denger tuh.
+ Kalo nggak Semusim-nya Marcell aja deh?
- Sama.
+ Ato nggak lagunya John Mayer, yang ... Your body is a wonderland?
- (bengong)

Emang biasanya kalo gw maen, jarang-jarang banget ada yang minta lagu gitu. Paling banter lagu-lagu yang ngetop jamannya opa-oma masih pacaran naek sepeda kumbang goncengan pergi ke bioskop nonton film koboi. Ato nggak cucakrowo, yang lagunya gampang banget, bisa dimainin sama anak playgroup sambil merem. I smirk whenever I get this kind of cheesy request, but I do play just to keep the crowd happy and to avoid any blood bath. In short, I play it in the name of world harmony.

Berhubung sekarang audiencenya anak-anak muda - yah, bangsa dua-tiga tahun di bawah gw - kayaknya kalo ngak bisa ngikutin lagu sekarang, gw berasa tuuuuaaaaaa banget. Makanya gw beli majalah-majalah itu. Buat siap-siap.

Kalo organizer sih buat gaya-gayaan doang. Mungkin entar buat nyatet catatan keuangan gw, jadi semacam ledger yang mudah-mudahan bisa ngontrol anggaran belanja gw yang selama ini sering jebol justru gara-gara gw pake debit card. Emang masih mending pake debit card. Paling pol tabungan jadi nol, impas. Kalo pake credit card sih bisa-bisa gw jadi pengutang yang insomnia mikirin debt-collector yang sebentar-sebentar nggedor-gedor pintu rumah dan nelpon dengan teror kata-kata ajaib yang bikin nyali ciut.

Credit cards, like dentists and estate agents, are one of life's necessary evils - everyone despises them with every single fibre of their entire being, but they have little choice but to make use of them at one time or another in their lives.


Tapi tetep aja debit card bikin gw jadi boros. Pingin ketawa baca advertorial di halaman B1 Koran Tempo kemarin. Debit Plus BNI. Cara yang terbaik untuk mengajarkan kecerdasan finansial bagi anak-anak anda. Sebagin besar paragraphnya sih pasti ngambil dari bukunya Robert T. Kiyosaki "Cashflow Quadrant", "Rich Dad, Poor Dad", dan "Rich Dad's Guide to Investment". Tapi malah diplintir-plintir supaya nyambung bahwa "blah blah blah ... dengan memilih debit card BNI bagi anak-anak anda, anda bisa membantu mengajarkan mereka tentang kecerdasan finansial." Yeah right!

Dumb Shoppers' Law #34
Kalo elu ngebawa belanjaan yang cuma sedikit, maka kemungkinannya begitu elu nyampe kasir, ternyata di situ udah penuh dengan orang-orang yang ngantri ngebawa belanjaan banyak banget.

5.1.04

Ms Picky

Me and my big mouth. Last month, between sobriety and insanity, I gave a word to my little sister to buy her a pair of shoes. After weeks of lame excuses just to keep me away from keeping my promise, finally I had a heart of a good big brother and took her to a mall. Once I thought of lending my card with her, think again, maybe NOT. She might not have the wisdom to use the card properly.

We came into a store. Within five minutes, I bought myself two formal shirts. OK, today's pop quiz: who needs a psychiatrist's treatment for buying things compulsively?

In my defense, I might need that. It's true that one day I went to office wearing a formal worker shirt and my boss scolded me for not looking casual like him. But the next day, I was in my casual t-shirt and denims, a neighbor mistook me for a university student.

But what is a perfect pair of shoes to her?
After wandering in bewilderment in that spacious store, my sister dragged me to women shoes corner. I couldn't believe the way she tired her legs out by browsing each shelves, looking for a perfect pair. But what is a perfect pair of shoes to her? I almost screamed my heart out listening to her: These ones were too bright, those have too high heels, those were too girlie, those were too bitchy, and those pair - oh yeah - were of same color of a pair she'd already had. I keep asking, "Get real. Of these millions of shoes, you cannot pick one - just one - pair?" "I know it's the one the moment I spot one," she replied as her eyes explored the display. Now I do have a great respect to shop attendants.

If you cannot manage to love one pair of shoes here, probably it's not the store. It's you!, I mumbled. It took her forever to decide. Well, almost. As I walked toward her to say Game over. Let get outta here!, she finally turned around and said, "This is it. It's the one." I was about to give my judgement but, knowing that it would prolong my pain waiting for another century to come in this store, I refrained. "Yes, that's definitely you." Where's the cashier? Can we go home now?

At Terrace Golf Villa, Puncak

Apparently, I've been chosen as official new year's performer at this resort hotel. After last year's debut, two weeks before 2003 ended, I've got a phone call from the owner. "So, could you make it?" I couldn't say no. What could a humble person expect more, after a free stay in a 2-bed room, free meal, free ride, and a thank-you-very-much-well-done-come-again check? It's like paid vacation, only better.

So after 2-hour drive along puncak winding road, we got there. Gosh. It seems yesterday I've just checked out from this room. How a year's gone by.

The only disappoinment was that there was less firework launching for me this new year's eve. Half an hour before midnight, the host handed out one firework to each person in the hall. I got mine too. One? What's this? Suddenly my entire new year's eve happiness should depend on this single firework which might not launch at all? I put it in a bouquet of flowers. So there it was, disguised among red snapdragons. Anyway I definitely could not go outside and light it on, simply because I've got to rest my fingers on the keyboard, ready to play a medley of "Auld Lang Syne"s in various music styles.

"Sepuluh ... Sembilan ... Delapan ... Tujuh ... Enam ... Lima ... Empat ... Tiga ... Dua ... Satu! Selamat Tahun Baru!"

Lights went dim. As darkness prevailed, each piano key depressed filled the hall with this widely popular new year tune. I played in Ballad, Big Band, Slow Jazz, and Latin style for about ten minutes. There went my chance to play with my one and only firework.

To give a melancholy mood, I chose "Satu Jam Saja" as the finale of that night's performance.

Jangan berakhir
Kuingin sebentar lagi
Satu jam saja
Izinkan aku merasa
Rasa itu pernah ada

Another bomb-threat

It seems that those damned terrorists have actually run out of potential bomb-threat target. After last year's arrays of bomb threats, in the very dawn of 2004, their eyer are set on a place traditionally ignored by their predecessors: UI school of Dentistry.

In a warm friday morning, I phoned my sister, assuming that she was still at campus. Turned out that she was not because actually she didn't have any class. But actually that's not the only reason why she didn't bother to come to her campus. "You know what, my campus got a bomb threat." What? Another mindless faceless caller trying to put a fright in a campus full of gorgious high-heeled dentist to-bes?

What seemed to be the only the only logical explanation behind this new year surprise? Probably those mobs reasoned that less dentists would decrease public health, one thing lead to another, and eventually making it a lot easier for them to gain power.

I tried to figure out what a chaos it might look like in that old white dutch-heritage campus. "Oh my God, BOMB. Girls, put off your high heeled shoes! Sorry, Sir, I cannot finish drilling your left-bottom molar. Go drill it your self, I'll charge nothing on your bill for today's appointment. Oh God, no what'd happen to this half-treated dead men's teeth ... oh heck, I'm not going to bring it, else I'll be dead here and those freshmen will use my remnants as their lab material ..."

Or probably it might go like this. "Damned, it's got to be those bastards Kyai Tapa's girls trying to take away our pride as UI dentistry students. Surely they've slick plan to take over the control over white-healthy-strong teethed guys! Fools, in no condition would they be popstars in the world of female dentist students."

My sis commented, "We don't know who the caller is, but most of 3rd year students would like to show their gratitude toward this mysterious guys for a little bit of delay to the exams."

Other suspects:
1. Anyone of millions turned-down admirers of female UI dentistry students.
2. A psycho with a dental problem and a phobia against being close to K-Flex and Headstorm trying to cancel his appointment that morning.